STUDI ILMU BALAGHAH

· Article

Oleh :
Dr. ULIN NUHA, S.Pd.I., M.Pd.I
(Dosen PBA STAI Yogyakarta)

Ketika kita membahas dan membaca sejarah tujuan diturunkannya al-Qur’an pada Sayyidina Muhammad SAW, maka secara umum kita akan mengetahui bahwa tujuan utamanya adalah agar al-Qur’an itu menjadi mukjizat baginya. Term mukjizat sendiri adalah bermakna “menjadikan lemah” atau “tidak berkuasa” lawan mainnya. Karena al-Qur’an itu mengandung mukjizat, maka maksud dari pada i’jaz al-Qur’an adalah melemahkannya al-Qur’an terhadapat lawannya yakni (kemampuan) manusia untuk mendatangkan apa yang telah ditantangkan al-Qur’an (yakni untuk mendatangkan yang semisalnya).

Al-Qur’an adalah mu’jizat yang berada diluar kebiasaan manusia Arab waktu itu. Mereka yang waktu itu terkenal dengan fashahah dan balaghah dalam tingkat kebahasaannya dikagetkan dengan peristiwa munculnya al-Qur’an yang dibawa dan didakwahkan rasul dengan tingkat bahasa yang jauh di atas kemampuan manusia Arab. Bahasa yang ditampilkan al-Qur’an itulah yang membuktikan kemu’jizatannya yang tidak mungkin bahasa itu dibuat oleh rasulullah. Bahasa semacam itu adalah bahasa Ilahi yang sudah keluar dari adat kemampuan manusia Arab kala itu.

Orang Arab yang terkenal dengan tingkat kafsihah dan kebalaghian bahasa yang sangat tinggi dengan begitu mudah ditakhlukan oleh Rasulullah melalui al-Qur’an yang mu’jiz. Maka untuk bisa mengetahui kandungan kemu’jizatan al-Qur’an itu, kita harus membahasnya melalui fan Ilmu Balaghah. Karena obyek kajian dalam Ilmu Balaghah ini adalah teks-teks berbahasa Arab yang dikaji melalui cabang Ilmu Ma’ani, Ilmu Bayan, dan Ilmu Badi’.

Ketiga ilmu tersebut memiliki obyek kajian yang sama, yakni bahasa Arab. Dimana Ilmu Ma’ani berfungsi untuk membahas dan mengetahui hal-ihwal suatu lafadz berbahasa Arab yang ia senantiasa berkesesuaian dengan muqtadla al-hal (konteks) -yang melingkupinya- disertai dengan kesempurnaan dengan tujuan kebalghahan yang dapat dipahami melalui kandungan siyaqul kalam (urutan susunan lafadz). Oleh karenanya, Ilmu Ma’ani adalah mencakup bidang pembahasan hadf (pembuangan), dikr (penyebutan), ta’rif (ma’rifat), tankir (nakirah), taqdim (pendahuluan), ta’khir (pengakhiran), fashl (pemisahan), washl (penyatuan atau penyambungan), musawah (kesamaan dan atau keseimbangan), ijaz (penyingkatan dan peringkasan), itnab (penjabaran). Selain membahas lafadz-lafadz bahasa Arab tersebut, Ma’ani itu membahas hal-ihwal kalam Arab (ucapan dalam bentuk susunan kalimat-kalimat bahasa Arab) yang di dalamnya tercakup bidang kajian kalam khabar dan insya’, musnad dan musnad ilaih yang terkadang bentuk susunan musnad dan musnad ilaih itu berbentuk susunan yang singkat (qasr) atau juga berbentuk susunan yang panjang (ghairu qasr).

Adapun Ilmu Bayan adalah ilmu yang membahas tentang berbagai macam cara dan metode untuk menjelaskan dan menggambarkan suatu makna tertentu ke dalam suatu kalimat. Hal itu sesuai dengan makna dari pada bayan itu sendiri yang berarti “menampakkan” dan “menjelaskan”. Obyek kajian ilmu bayan ini terdiri dariberbagai macam cakupan ilmu, yakni; tasybih, majaz, majaz mursal, isti’arah, dan juga kinayah.

Sedangkan Ilmu Badi’ adalah ilmu yang membahas tentang tatacara memperindah dan memperhalus sebuah kalimat bahasa Arab. Selain itu dengan ilmu ini kita juga bisa menghiasi lafadz-lafadz berbahasa Arab serta makna-makna yang terkandung di dalamnya dengan bentuk yang indah dan menawan. Disebut badi’ karena sesuatu hal berbahasa Arab itu tidak diketahui lafadz dan maknanya sebelum diungkapkan. Orang yang pertama menyusun ilmu ini adalah seorang penyair kondang, ahli sastra, sekaligus seorang sufi yang bernama Abd Allah ibn Mu’taz. Kemudian selanjutnya di ikuti oleh Qudamah ibn Ja’far. Abd Allah ibn Mu’taz dalam mengungkapkan segala sesuatunya selalu menggunakan ungkapan-ungkapan syi’ri (syair) yang begitu indah dan menawan yang kemudian dikumpulkan dalam kitabnya yang berjudul “Al-Badi’”. Adapun ushlub-ushlub (gaya bahasa) terpenting yang menjadi obyek kajian Ilmu Badi’ ini adalah; jinas (harmonisasi bunyi), thibaq (kesesuaian bunyi), saja’ (keselarasan bunyi akhir), muqabalah (kesesuaian makna), dan tauriyah (menampakkan makna yang tidak diinginkan).

Melalui ketiga bidang ilmu itu, kita dapat mengetahui keindahan, kefasihan, kebalghian orang-orang Arab dalam menuturkan kalimat berbahasa Arab. Utamanya kita akan mampu untuk memahami keindahan-keindahan syair yang dibuat oleh orang-orang Arab. Lebih dari itu, melalui ketiga ilmu tersebut, kita akan mampu memahami keindahan ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung mukjizat. Yang selanjutnya kita akan mampu menyelami samudra keindahan bahasa al-Qur’an serta memahami maksud dari kandungan-kandungan makna yang tersurat dan tersirat di dalam setiapayat-ayat suci al-Qur’an.

*) Resume dari buku karya Ulin Nuha, “STUDI ILMU BALAGHAH : Pengantar Memahami Balaghah al-Qur’an dan Balaghah al-Lughah al-Arabiyyah”, Yogyakarta : CV. ISTANA AGENCY, 2022. ISBN : 978-623-6226-62-9.  Selengkapnya dapat dibaca di link : https://bit.ly/Studi_Ilmu_Balaghah_oleh_UlinNuha

Leave a Comment