MITIGASI BENCANA BERBASIS KEMASJIDAN DI DAERAH RAWAN GEMPA BUMI

· Article

Oleh :

MUTHMAINNAH, SHI., MSI
(Dosen AS – FAI Universitas Cokroaminoto Yogyakarta)

Indonesia merupakan negeri yang memiliki keanekaragaman hayati dan kekayaan sumber alam yang melimpah. Ditinjau dari segi meteorologis, Indonesia  terletak pada daerah monsun atau angin musim di daerah tropis, ditinjau dari oseanologi dan oseanografi, Indonesia terdiri dari 70% perairan dan hanya kurang lebih 30% darat. Meski demikian, warganya juga harus waspada. Indonesia sebagai negara kepulauan yang secara geografis terletak di daerah khatulistiwa. Di antara Benua Asia dan Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Hindia, berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia merupakan wilayah teritorial yang sangat rawan terhadap bencana alam.

Kerawanan bangsa juga bisa dilihat dari jumlah penduduk yang besar dengan penyebaran yang tidak merata, pengaturan tata ruang yang belum tertib, masalah penyimpangan pemanfaatan kekayaan alam. keaneka  ragaman suku, agama, adat,  budaya, golongan pengaruh globalisasi serta  permasalahan  sosial lainnya  yang  sangat  komplek  mengakibatkan  wilayah  Indonesia  menjadi wilayah yang memiliki potensi rawan bencana, baik bencana alam maupun ulah manusia, antara lain: gempa bumi,  tsunami, banjir, letusan gunung api, tanah longsor, angin ribut, kebakaran hutan dan lahan serta letusan gunung api. Secara umum terdapat peristiwa bencana yang terjadi berulang setiap tahun. Bahkan saat ini peristiwa bencana menjadi lebih sering terjadi dan silih berganti, misalnya  dari kekeringan kemudian kebakaran, lalu diikuti banjir dan longsor.

Sampa saat ini, penanganan bencana di Indonesia masih dirasa kurang efektif. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, antara lain ; paradigma  penanganan  bencana yang parsial, sektoral dan kurang terpadu. Penanganannya juga masih memusatkan tanggapan pada upaya pemerintah, sebatas pemberian bantuan fisik dan dilakukan hanya pada fase kedaruratan.

Tinjauan geologi telah menegaskan bahwa Indonesia mempunyai banyak  gunung  berapi  dan pergerakan lempeng yang  masih  aktif dan berpotensi bahaya gempa bumi. Jenis gempa yang sering terjadi di Indonesia adalah gempa bumi tektonik. Gempa  itu  disebabkan  oleh  adanya  aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng tektonik yang ada pada kerak bumi (lithosphere) secara mendadak  yang  mempunyai  kekuatan  dari  yang  sangat  kecil  hingga  yang  sangat besar. Diperkirakan dalam satu tahun terjadi satu juta gempa bumi. Tetapi sebagian besar gempa  itu  tidak  terdeteksi  karena  sangat  lemah  untuk  direkam  dengan  alat  atau karena  gempa  terjadi  pada  daerah  yang  tidak  ada  penduduknya.  Di  antara  sekian banyak  gempa  tersebut,  sekitar  100 gempa  pertahun  menimbulkan  kerusakan  dan sekitar sekali setahun terjadi gempa bumi dahsyat.

Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berdekatan dengan zona subduksi lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia dan menjadi daerah rawan gempa bumi.  Selain  rawan  gempa bumi akibat aktivitas tumbukan lempeng, wilayah Yogyakarta rawan gempa bumi akibat aktivitas beberapa sesar lokal di daratan.  Struktur  sesar  terbentuk  sebagai  dampak  desakan lempeng Indo-Australia pada  bagian  daratan  Pulau  Jawa.  Beberapa  sistem sesar yang  diduga masih aktif adalah  Sesar Opak, Sesar Oya, Sesar Dengkeng, Sesar Progo, serta sesar mikro lainnya. Aktifnya dinamika penyusupan lempeng yang didukung oleh aktivitas sesar di daratan menyebabkan wilayah Yogyakarta menjadi salah satu daerah dengan tingkat aktivitas kegempaan yang tinggi di Indonesia.

Pengalaman gempa bumi Yogyakarta tahun 2006 telah mensuratkan peran besar institusi agama dalam mengurangi dampak dan pemulihan pasca gempa bumi. Sorotan terbesar adalah keberadaan masjid sebagai tempat penampungan sementara dan pusat logistik bagi pengungsi gempa bumi, tentu saja peran takmir sangat penting sebagai aktor yang memainkan peran ini. Belajar darinya, peran masjid bisa diperluas dengan menindaklajutinya sebagai bagian dalam kegiatan mitigasi bencana gempa bumi yang berdampak langsung kepada masyarakat dan jama’ahnya. Dengan demikian harapan untuk perwujudan masjid yang tangguh menghadapi segala bencana alam bisa terwujud.

Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Tindakan-tindakan yang bertujuan untuk mereduksi dampak bencana baik dampak domestik dan publik terutama jiwa, harta benda, maupun dampak ke infrastruktur fisik dan sosial. Dalam kaitan dengan waktu, tindakan mitigasi hampir mirip dengan tindakan preventif.

Peran Takmir Masjid dalam mitigasi terutama sebagai pusat informasi dan pengetahuan bencana gempa bumi kemudian menjadi terasa besar apabila ditelaah lebih lanjut bahwa aspek peribadatan Islam juga terpengaruh karena gempa bumi. Pasca gempa bumi bisa menimbulkan kekurangan air yang berdampak pada tayammum sebagai pengganti wudu sebelum melakukan shalat. Gempa bumi juga berpotensi pergeseran letak masjid, musalla, pekuburan dan tempat shalat di rumah terhadap arah kiblat sebagai bagian unsur penting dalam salat wajib.

Takmir Masjid telah menjadi lembaga sosial Islam terdepan yang eksis dalam tanggap bencana gempa bumi, karena fungsinya yang berdimensi kompleks dan diakui nyata bagi kesejahteraan jasmani dan rohani masyarakat sekitarnya. Semua kenyataan memberikan peluang dan relevansi masjid sebagai pusat informasi dan pengetahuan pengurangan resiko gempa bumi. Untuk itu, pimpinan dan pengurus masjid yang berpengetahuan dan kemampuan serta pro-aktif dalam tanggap bencana menjadi tuntutan yang tak terelakkan.

*) Resume dari buku karya Muthmainnah, “Mitigasi Bencana Berbasis Kemasjidan Di Daerah Rawan Gempa Bumi”, Editor : Umi Musaropah, Yogyakarta : SPIRIT MONDIA CORPORA, 2021. ISBN : -.  Selengkapnya dapat dibaca di link :

https://bit.ly/MitigasiBencanaBerbasisKemasjidanDiDaerahRawanGempaBumi

Leave a Comment