Peringatan Maulid Nabi dalam Tradisi Masyarakat Gunungkidul

· Article

Oleh Khiyaroh, SH., MH

Dosen Hukum Keluarga Islam STAI Yogyakarta

Peringatan maulid Nabi merupakan peristiwa yang tidak asing dikalangan masyarakat Islam di Indonesia. Peringatan maulid Nabi merupakan tradisi yang sudah lama berkembang beberapa waktu setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Peringatan tersebut merupakan bentuk penghormatan dan peringatan kebesaran Nabi. Berbagai macam bentuk perayaan dilakukan oleh umat Islam. Mulai dari kegiatan budaya, keagamaan, dan ritual. Meskipun bentuk perayaan maulid masih terdapat kontroversi dari berbagai ulama, tetapi saat ini maulid Nabi diperingati secara luas di negara-negara muslim, khususnya di Indonesia. Semangat yang ditunjukkan adalah untuk menyatukan gairah keislaman.

Maulid berasal dari bahas arab yaitu walada-walidu-wiladan yang berarti hari kelahiran (A.W.Munawir:1580). Kata ini biasanya dikaitkan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Terdapat dua pendapat awal mula adanya peringatan maulid. Pertama, tradisi maulid pertama kali diadakan oleh Khalifah Mu’iz li Dinillah salah satu Khalifah di masa Dinasti Fatimiyyah di Mesir. Kemudian perayaan maulid dilarang oleh Al-Afdhal bin Amir al-Juyusy dan kembali dilaksanakan pada masa Amir li Ahkamillah tahun 524 H.

Kedua, maulid diperingati pada masa Khalifah Mudhafar Abu Said tahun 630 H. Khalifah Mudhafar mengadakan perayaan maulid secara besar-besaran. Saat itu Khalif Mudhafar sedang berusaha untuk menyelamatkan negerinya dari kekejaman Jengiz Khan raja dari Mongol. Untuk mengahadapi hal tersebut Khalifah Mudhafar mengadakan acara maulid selama tujuh hari tujuh malam. Dalam acara maulid tersebut khalifah Mudhafar menyajikan 5.000 kambing, 10.000 ayam, 100.000 keju dan 30.000 piring makanan. Acara tersebut juga menghabiskan 300.000 dinar uang emas. Kemudian dalam acara tersebut Khalifah Mudhafar juga mengundang para orator muslimin untuk menghidupkan kembali heroisme keislaman. Hasilnya heroisme muslimin dapat dikobarkan dan dapat menjadi benteng keislaman.

Perayaan maulid Nabi di Indonesia disahkan sebagai hari besar / libur nasional. Perayaan maulid dilakukan di masjid-masjid, mushola (langgar), surau, majlis ta’lim, atau di pondok pesantren. Berbagai bentuk kegiatan dan rangkaian acara dilakukan di masyarakat. Bisa berupa khitanan masal, pengajian akbar, pembacaan maulid Barzanji, atau berbagai macam perlombaan keislaman bagi anak-anak. Acara puncak biasanya dilaksanakan pada malam tanggal 12 Rabiul Awal. Disetiap daerah-pun terdapat perbedaan dalam perayaan maulid Nabi. Daerah Yogyakarta, mengadakan kegiatan muludan dengan menggelar kegiatan tradisi sekaten. Kata sekaten secara turun temurun bermula dari kata “syahadatain”. Kata tersebut bertransformasi dengan bahasa lokal dan berubah menjadi sekaten.

Selain adanya sekaten, di kabupaten Gunungkidul juga biasa diadakan tradisi kenduri saat perayaan maulid. Tradisi ini merupakan peninggalan dari nenek moyang yang masih dilaksanakan sampai saat ini. Tradisi kenduri biasanya dilakukan saat siang hari atau dapat juga dilaksanakan saat sore hari. Saat kenduri warga setempat membawa nampan berisi makanan ke rumah pemuka agama. Lalu diadakan do’a bersama yang dipimpin oleh pemuka agama. Dalam doa tersebut tidak ada unsur lain, selain berdoa memohon keselamatan dan keberkahan dari Allah SWT. Acara kenduri biasanya dimulai dengan shalawat, dzikir dan mengagungkan Asma Allah. Setelah acara doa bersama selesai, kemudian warga yang turut hadir bersama-sama menyantap makanan yang telah mereka bawa. Acara kenduri selain sebagai perayaan maulid Nabi yang bernuansa keagamaan, juga sebagai wadah kegiatan sosial dan interaksi antar warga. Malam puncak maulid Nabi terdapat beberapa dari kalangan masyarakat merayakan maulid dengan melantunkan syair-syair Barzanji.

Pembacaan syair-syair Barzanji, biasa dilaksanakan oleh kalangan masyarakat Indonesia, khususnya dari Nahdlatul Ulama (NU) seperti yang dilakukan oleh pemuda-pemudi dari GP. ANSOR dan Fatayat NU di desa Bansari, Kepek, Wonosari, Gunungkidul. Pembacaan kitab Barzanji ini biasanya dilakukan dalam setiap malam jumat atau malam senin, pada upacara kelahiran bayi, upacara mencukur rambut bayi (aqiqah), acara khitanan, pernikahan, dan upacara lainnya. Serta yang monumental adalah saat bulan Rabi’ul Awal (Maulid) yaitu jamaah bapak-bapak, jamaah Ibu-ibu, jamaah pemuda dan anak-anak melakukan pembacaan syair kitab Barzanji di Masjid / Musholla/ Langgar / Rumah penduduk dari malam tanggal 01  sampai dengan malam tanggal 12 Rabi’ul Awal / Maulid,  sebagai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Syair-syair kitab Barzanji atau ‘Iqd al-Jawahir (Untaian Permata) merupakan karya sastra Arab yang berisi syair-syair tentang kisah Nabi Muhammad SAW yang diciptakan oleh Syekh Ja’far Ibnu Hasan Ibnu Abdul Karim Ibnu Muhammad al-Barzanji (1690-1766 M).

Pembacaan kitab Barzanji sebagai bentuk perayaan atau peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dinyakini akan memperoleh syafaat dari Nabi pada hari kiamat kelak, hal ini sebagaimana penggalan hadits yang mengatakan : “Siapa yang menghormati hari lahirku, maka dia akan memperoleh syafaatku pada hari akhir kelak.” 

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dilakukan untuk meningkatkan kecintaan umat Islam kepada Rasullah SAW. Acara pembacaan Barzanji, kadang diteruskan dengan pembacaan dzikir, atau biasa disebut “Tahlil” sebagai bentuk ucapan kalimat-kalimat  yang mengingatkan kepada Allah. Masyarakat yang ikut hadir selain dapat meningkatkan keimanan dengan beribadah, juga menjadi sarana silaturahim antar warga masyarakat. Hal ini jelas terjadi karena secara langsung warga masyarakat akan saling bertegur sapa juga saling bertukar cerita. Persaudaraan antar wargapun dapat terus terjaga dengan mengikuti acara Barzanji.

Meskipun masih terdapat kontroversi antar ulama terkait dengan boleh atau tidak pelaksanaan maulid, tidak ada salahnya umat muslim terus melestarikan budaya yang sudah dijalankan sejak lama. Ditinjau dari pelaksanaan maulid dengan tradisi kenduri maupun pembacaan Barzanji, keduanya dilaksanakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah. Sehingga selama acara tersebut tidak terdapat unsur yang mendekati untuk menyekutukan Allah maka perayaan maulid dengan mengadakan kenduri dan pembacaan Barzanji adalah sah-sah untuk dilakukan. Doa-doa yang dibacakan juga ditujukan kepada Allah. Sehingga menurut penulis, tradisi kenduri, bacaan Barzanji dan lain sebagainya patut dijaga eksistensinya dan dilestarikan.

Leave a Comment