Pembelajaran Jarak Jauh di SD/ MI Masa Pandemi Covid 19 (Dampak Positif dan Negatif)

· Article

Sejak masuk pertama virus covid 19 di Indonesia pada akhir Februari 2020 dan ditetapkan menjadi pandemi pada bulan-bulan selanjutnya membuat mekanisme belajar di sekolah dibuat daring atau pembelajaran jarak jauh. Tentu saja kabar ini membuat pihak sekolah dan pihak peserta didik harus segera menyesuaikan diri. Menyesuaikan diri dimaksudkan bagi sekolah segera membuat sistem belajar dengan beberapa aplikasi daring yang lazim digunakan dan seharusnya terjangkau untuk kebanyakan peserta didik yang mereka miliki. Kemudian bagi pihak peserta didik khususnya wali, mereka juga harus menyesuaikan dan mendukung pembelajaran jarak jauh yang disiapkan oleh sekolah.

Terhitung sejak maret 2020, metode daring atau pembelajaran jarak jauh telah berjalan kurang lebih 11 bulan. Maka dapat kita evaluasi bersama beberapa dampak yang dapat dirasakan peserta didik, guru maupun orang tua di SD/ MI. Dampak yang terjadi yang kita amati selama ini ada yang bersifat positif dan bersifat negatif. Sebelumnya kita bahas dampak positif yang hadir dari pembelajaran daring ini. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makariem mengungkapkan bahwa empati orang tua terhadap guru menjadi meningkat, dan guru juga harus menyadari tanpa orang tua pendidikan tidak akan selesai. Dari satu dampak positif yang hadir ini bisa kita ambil informasi bahwasannya sebelum pandemi antara orang tua dengan pihak sekolah masih minim kerjasama untuk urusan pendidikan anak. Umumnya orang tua wali terbiasa menyerahkan urusan pendidikan anaknya sepenuhnya kepada sekolah. Sekarang orang tua sadar betapa penting dan besarnya peran guru di sekolah, setelah mereka mendidik anaknya dirumah. Kemudian beberapa sekolah kurang menjalin sinergi dan komunikasi yang intensif dengan orang tua wali mengenai perkembangan pendidikan anak. Dapat disimpulkan adanya daring ini menyadarkan masing-maing pihak bahwa pendidikan perlu kerjasama yang kompak untuk kemajuan bersama.

Tuntutan untuk menjadi melek teknologi di era digital ini sedikit banyak terwujud dengan adanya sekolah daring, jelas ini adalah dampak positif. Bagi peserta didik SD/ MI pada beberapa di daerah pinggiran Gunungkidul ini misalnya, mereka tidak akan menyangka akan terbiasa belajar daring menggunakan beberapa aplikasi. Misalnya mereka dituntut untuk belajar menggunakan aplikasi seperti Google Meet, Google Classroom, Google Form, group WhatApp bahkan Zoom Meeting. Peserta didik bahkan orang tua yang kebanyakan dari mereka adalah petani, buruh, dan pedagang, mau tidak mau diwajibkan minimal memiliki handphone untuk mengunduh beberapa aplikasi tersebut. Yang mungkin saja tadinya mereka belum punya ataupun belum mengetahui ada beberapa alternatif teknologi yang bisa digunakan. Bahkan untuk guru pun ini menjadi hal yang baru, harus kreatif dalam menggunakan teknologi dan media agar materi tersampaikan secara utuh. Otomatis pihak sekolah, peserta didik dan orang tua wali harus belajar teknologi menyesuaikan dengan kebutuhan zaman di era pandemi.

Beberapa orang tua mengungkapkan dampak positif yang muncul ketika belajar daring, yakni mereka merasa kedekatan dengan anak lebih erat. Tentu saja hal ini terjadi karena intensitas bertemu anak dengan orang tua lebih banyak dari sebelumnya. Orang tua wali semakin terbiasa mendampingi anak belajar daring. Pembentukan beberapa karakter yang seharusnya dibentuk disekolah perlahan dibentuk oleh pembiasaan orang tua wali dirumah. Contoh kecil saja, disiplin dalam mengerjakan tugas yang diberikan sekolah, maka kontrol kedisiplinan mereka adalah orang tua wali. Bagaimana orang tua wali yang mengarahkan peserta didik usia SD/ MI ini untuk disiplin dan tertib mengerjakan tugas tepat waktu.

Ada beberapa dampak negatif juga yang muncul akibat belajar secara daring atau pembelajaran jarak jauh. Dampak negatif ini juga berimbas pada peserta didik dan orang tua. Yang pertama, dampak bagi peserta didik, materi pembelajaran atau kompetensi yang dicapai lebih sedikit dari pembelajaran tatap muka. Hal ini menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Kemudian interaksi secara langsung antara peserta didik dengan temannya, antara peserta didik dengan guru tidak ada hanya sebatas daring. Sehingga yang biasanya bersosialisasi langsung menjadi kurang, demikian ini menjadikan kejenuhan anak untuk belajar. Selanjutnya jika kondisi ini terus terjadi motivasi untuk belajar lama-lama akan menurun.

Kedua,  penggunaan aplikasi daring ini membuat boros dari segi penggunaan kuota, hal ini tentu saja dirasakan oleh orangtua wali ditengah pandemi seperti ini. Ditambah dengan contoh daerah yang topografi seperti daerah Gunungkidul yang kebanyakan pegunungan, sinyal atau jaringan internet menjadi kendala tersendiri. Sehingga sedikit banyak mengakibatkan hambatan dalam belajar daring sedangkan sekolah harus tetap berjalan. Untuk kasus-kasus terkecuali semacam ini, maka pihak sekolah memberikan solusi kepada peserta didik tertentu untuk mendapatkan materi dan atau mengumpulkan tugas langsung sekolah. Tentu saja harus sesuai protokol kesehatan dan aturan yang berlaku. Disamping itu tidak semua orang tua terdidik untuk terbiasa mendampingi anaknya belajar dirumah akan memunculkan masalah baru. Terlebih jika orang tua juga bekerja diluar, tugas orang tua menjadi bertambah-tambah.

Ketiga dampak negatifnya bagi guru mulai dirasakan ketika harus melakukan penilaian atau evaluasi. Baik evaluasi tes maupun non tes yang dipersyaratkan oleh kurikulum. Guru sebagai pendidik tidak bisa mengukur hasil belajar siswa secara langsung, hanya melewati beberapa aplikasi yang disediakan. Hal ini tidak dapat dipastikan kebenarannya ketika mereka mengerjakan dirumah. Kejujuran orang tua wali dan anak juga perlu dipertegas untuk itu. Untuk itu guru harus pandai-pandai dengan memilih metode yang sesuai agar penilaian yang dimaksud dapat terpenuhi. Selain penilaian, penggunaan aplikasi dan media yang harus beragam juga menambah beban guru. Setiap hari guru harus membuat materi, contohnya membuat video pembelajaran, tugas yang terstruktur dan inovasi media lainnya yang dapat diterima dan dilakukan oleh peserta didiknya. Padahal kegiatan semacam ini jarang dilakukan jika pembelajaran tatap muka berlangsung. Untuk guru-guru muda yang melek teknologi tidak akan terlalu berat akan tetapi jika guru-guru senior yang kurang mengikuti perkembangan teknologi merupakan usaha tersendiri baginya.

Beberapa dampak positif dan negatif tadi maka dapat disimpulkan bahwa memang pembelajaran tatap muka lebih baik daripada pembelajaran jarak jauh. Guru dapat secara langsung transfer ilmu pengetahuan dan juga dapat membentuk akhlak atau karakter siswa melalui pembiasaan. Dari segi kompetensi ketrampilan juga guru dapat secara langsung mengajarkan kepada peserta didik tanpa terkendala komunikasi. Peran guru disini terlihat memang tidak dapat digantikan dengan media apapun. Namun jika ada suatu keadaan yang darurat seperti saat ini maka kita harus siap menyesuaikan diri. Kemudian untuk semua pihak kita bisa belajar bahwa penguasaan teknologi ini sangat penting diera saat ini. Khususnya dari segi pendidikan agar siap menghadapi era revolusi industri yang berlangsung ditengah pandemi.

Leave a Comment